Tahun ini peryaan hari Rabu Abu jatuh bersamaan dengan 1 Ramadan 1447 H bagi warga Muslim. Pertemuan dua masa suci ini menjadi potret nyata harmoni beragama di Tanah Air. Antusias umat dalam mengikuti perayaan Rabu Abu terlihat meningkat dari tahun sebelumnya,
Rabu Abu juga dimanknai sebagai simbol pertobatan, umat diingatkan untuk melakukan refleksi dan menyadari kesalahan dalam hidup sehari-hari. Umat yang menerima abu di dahi mereka dianggap telah menunjukkan penyesalan dan tekad untuk berubah. Yang mana abu berfungsi sebagai pengingat tentang manusia yang akan kembali kepada Tuhan dan perlunya memperbaiki diri.

Sebagian besar umat tidak mengetahui bahwa abu yang digunakan memiliki asal-usul. Daun palma, yang melambangkan kemenangan , dibakar untuk menjadi abu dan kemudian digunakan di Rabu Abu. Ini menciptakan jembatan antara simbol kegembiraan dan kesedihan, mengingat akan sifat dualitas dalam perjalanan iman.
Dalam Homilnya Romo Domi menyampaikan “Pentingnya pertobatan manusia yang telah dimaknai oleh pengorbanan Yesus tidak bisa kita dipandang disebelah mata, kita gunakan Rabu Abu ini sebagai proses tobat dan memohon pengampunan pada saat masa pengakuan dosa nantinya, semoga masa prapaskah ini dapat kita hidupi dengan mengikuti teladan Kristus yang rendah hati dan penuh kasih.”
