Kota Blitar merupakan salah satu kota di Provinsi Jawa Timur yang kaya akan nilai sejarah dan budaya. Kota ini dikenal luas sebagai tempat peristirahatan terakhir Ir. Soekarno, sehingga memiliki nilai historis yang tinggi bagi bangsa Indonesia. Selain itu, Blitar juga menyimpan berbagai peninggalan masa lampau yang merepresentasikan perkembangan peradaban, mulai dari era Hindu-Buddha hingga masa kolonial.
Dari perspektif arsitektur, Blitar menawarkan beragam objek kajian yang menarik, seperti bangunan cagar budaya, situs religi, hingga kawasan dengan nuansa kolonial yang masih terjaga. Keberagaman ini menjadikan Blitar sebagai lokasi yang ideal untuk kegiatan pembelajaran lapangan, khususnya dalam memahami hubungan antara arsitektur, sejarah, dan budaya.
Pada 24 April 2026, Himpunan Mahasiswa Arsitektur menyelenggarakan kegiatan study ekskursi ke Kota Blitar sebagai bagian dari proses pembelajaran di luar kelas. Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa aktif Program Studi Arsitektur angkatan 2022 hingga 2024, serta turut melibatkan mahasiswa dari program studi lainnya. Kegiatan ini bertujuan untuk memperluas wawasan mahasiswa terhadap ragam arsitektur religi dan warisan budaya yang berkembang di Jawa Timur.
Perjalanan study ekskursi diawali dengan kunjungan ke Istana Gebang, yang merupakan rumah tinggal Ir. Soekarno semasa kecil bersama keluarganya. Di lokasi ini, mahasiswa dapat melihat secara langsung berbagai benda bersejarah yang masih terawat dengan baik. Setiap ruangan menampilkan karakter interior khas masa kolonial, mulai dari tata ruang, furnitur, hingga detail ornamen. Peserta juga mendapatkan penjelasan mengenai bagaimana arsitektur hunian pada masa tersebut mencerminkan kondisi sosial dan budaya masyarakat.
Destinasi berikutnya adalah Candi Penataran, salah satu kompleks candi terbesar di Jawa Timur. Candi ini terkenal dengan relief-reliefnya yang menggambarkan kisah Ramayana dan Mahabharata, yang mencerminkan kuatnya pengaruh budaya Hindu-Buddha pada masa itu. Mahasiswa memperoleh penjelasan langsung dari pemandu mengenai struktur bangunan, filosofi arsitektur, serta makna simbolik dari setiap relief. Hal ini memberikan pemahaman bahwa arsitektur candi tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai media penyampaian nilai-nilai kehidupan.

Perjalanan kemudian dilanjutkan ke De Karanganjar Koffieplantage,Perjalanan kemudian dilanjutkan ke De Karanganjar Koffieplantage, yang menyimpan jejak sejarah berupa kawasan perkebunan kopi peninggalan era kolonial. Tempat ini juga dikenal sebagai lokasi yang kerap dijadikan tempat persinggahan atau peristirahatan oleh Bung Karno Kawasan ini menghadirkan nuansa arsitektur kolonial yang kental, sekaligus memberikan gambaran tentang kehidupan dan aktivitas perkebunan pada masa lampau.
Mahasiswa berkesempatan mengunjungi museum yang menyimpan berbagai informasi sejarah serta mengamati karakter bangunan perkebunan pada masa lampau. Selain itu, peserta juga dikenalkan pada proses pengolahan kopi, sehingga memberikan pengalaman belajar yang menyeluruh antara arsitektur, sejarah, dan budaya.
Secara keseluruhan, kegiatan study ekskursi ini memberikan pengalaman belajar yang berharga dalam memahami keberagaman bentuk dan makna arsitektur di Indonesia. Setiap destinasi yang dikunjungi memiliki karakteristik unik yang mencerminkan perjalanan sejarah dan perkembangan budaya pada masanya. Melalui pengamatan langsung di lapangan, mahasiswa tidak hanya memahami teori arsitektur secara konseptual, tetapi juga mampu melihat penerapannya dalam konteks nyata yang dipengaruhi oleh sejarah, budaya, dan lingkungan.
Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kepekaan mahasiswa terhadap nilai-nilai arsitektur lokal serta menjadi inspirasi dalam merancang karya yang kontekstual dan berakar pada budaya.
(Stephanie Chrismandani)