Dalam rangka menyambut Dies Natalis ke-40 Universitas Katolik Darma Cendika (UKDC), HIMA Arsitektur bersama UKM Jurnalistik kembali menghadirkan Sketch CompetitionNasional Vol. 2 dengan mengusung tema “Quo Vadis Architectura Darma Cendika”. Kompetisi ini menjadi wadah bagi generasi muda untuk mengembangkan kreativitas sekaligus menuangkan gagasan mengenai perkembangan arsitektur di masa depan melalui karya sketsa.

Sketch CompetitionNasional Vol. 2 dilaksanakan pada 28 Desember 2026 dan diikuti oleh 20 peserta yang berasal dari berbagai jenjang pendidikan, yaitu SMP, SMA, SMK, MA, dan sederajat. Mengusung tema “Quo Vadis Architectura Darma Cendika”, para peserta ditantang untuk membayangkan dan menggambarkan wajah Universitas Katolik Darma Cendika 40 tahun mendatang. Melalui karya masing-masing, peserta bebas menerjemahkan imajinasi mereka mengenai perkembangan kampus, arsitektur, teknologi, ruang, dan lingkungan di masa depan.

Berbeda dari pelaksanaan sebelumnya, tahun ini rangkaian kegiatan diawali dengan Workshop Sketch sebagai pembekalan bagi para peserta sebelum mengikuti perlombaan. Workshop ini menjadi ruang bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan, kreativitas, serta keberanian dalam menuangkan gagasan melalui karya sketsa.

Sebagai pembekalan awal, Workshop Sketch menghadirkan Andreanus Gunawan dari komunitas Goras Gores. Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan wawasan mengenai teknik dan proses dalam membuat sketsa. Tidak hanya meningkatkan kemampuan teknis, peserta juga diajak untuk lebih bebas mengeksplorasi ide dan mengembangkan kreativitas melalui setiap goresan.

Untuk mendukung proses penilaian, panitia menghadirkan juri profesional yang memiliki kompetensi di bidang sketsa. Penilaian tidak hanya didasarkan pada kemampuan teknik menggambar, tetapi juga mempertimbangkan ide, kreativitas, komposisi, serta kemampuan peserta dalam menerjemahkan tema ke dalam sebuah karya visual.

Dari rangkaian proses penilaian tersebut, terpilihlah karya-karya terbaik sebagai pemenang. Juara 1 diraih oleh SMA Assa’adah, Juara 2 diraih oleh SMP Cita Hati, dan Juara 3 diraih oleh SMAK Santo Stanislaus.

Bagi Muhammad Najib, pencapaian tersebut menjadi pengalaman yang membanggakan sekaligus penuh tantangan. Pasalnya, pada hari perlombaan ia sedang dalam kondisi kurang sehat dan tidak fit. Meski demikian, Najib tetap berusaha mengikuti perlombaan dan memberikan kemampuan terbaiknya hingga berhasil meraih Juara 1.

Najib mengungkapkan bahwa dirinya merasakan berbagai emosi selama mengikuti perlombaan. “Perasaannya campur aduk, ada senang, gugup, dan insecure. Apalagi pada hari perlombaan kondisi saya sedang sakit dan tidak fit. Tapi saya sangat bangga dan bersyukur bisa mendapatkan Juara 1,” ujar Muhammad Najib.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kompetisi bukan hanya tentang memenangkan perlombaan, tetapi juga tentang keberanian untuk mencoba, berproses, dan memberikan yang terbaik dalam berbagai kondisi. Bagi para peserta, kegiatan ini menjadi kesempatan untuk mengasah kemampuan, memperoleh pengalaman baru, serta berani menyampaikan gagasan melalui karya.

Melalui Sketch Competition NasionalVol. 2, setiap goresan yang dihasilkan menjadi cerminan kreativitas dan cara pandang generasi muda dalam melihat masa depan. Lebih dari sekadar kompetisi, kegiatan ini menjadi ruang untuk berani berimajinasi, menyampaikan gagasan, dan mengenal lebih dekat dunia arsitektur.

Sejalan dengan semangat “Quo Vadis Architectura Darma Cendika”, karya-karya para peserta menjadi bagian dari cerita perjalanan 40 tahun UKDC sekaligus gambaran tentang harapan dan kemungkinan arsitektur di masa mendatang. Dari setiap goresan, lahir berbagai ide yang menjadi langkah kecil untuk membayangkan masa depan yang lebih kreatif, inovatif, dan bermakna.

(Stephanie Chrismandani)