Universitas Katolik Darma Cendika (UKDC) berpartisipasi sebagai co-organizer dalam The 1st Forum on the Integrated Development of Indonesian Traditional Medicine and Traditional Chinese Medicine yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Pengobat Tradisional Interkontinental Indonesia (PPTII) di Jakarta. Forum ini bertujuan memperkuat kolaborasi Indonesia dan Tiongkok dalam pengembangan pengobatan tradisional melalui penelitian ilmiah, standardisasi praktik, peningkatan kompetensi, dan pemanfaatan teknologi digital.
Kegiatan ini dirangkaikan dengan peluncuran dan penyerahan plakat China–Indonesia Joint Laboratory for Digital and Intelligent Traditional Chinese Medicine in the Prevention and Treatment of Degenerative Bone and Joint Diseases. Laboratorium bersama tersebut berfokus pada pelatihan terstandar, penelitian klinis berbasis bukti, serta pengembangan teknologi digital untuk terapi non-obat, khususnya pada penyakit degeneratif tulang dan sendi.
Delegasi Tiongkok dipimpin Zhang Qing, Wakil Direktur Wangjing Hospital, China Academy of Chinese Medical Sciences, dengan melibatkan Academician Zhu Liguo dari Chinese Academy of Engineering dan Feng Minshan, pimpinan bidang tulang belakang Wangjing Hospital. Forum ini juga didukung oleh The First Teaching Hospital of Tianjin University of Traditional Chinese Medicine serta Beijing Shui Mu Dongfang Medical Robot Technology Innovation Center Co., Ltd.
Ketua PPTII, Suryawan Ang, menegaskan pentingnya kolaborasi untuk mengembangkan keunggulan pengobatan tradisional Indonesia dan Traditional Chinese Medicine (TCM) tanpa menempatkan keduanya sebagai pendekatan yang saling menggantikan. Sementara itu, Zhang Qing menyampaikan bahwa peluncuran laboratorium bersama menandai dimulainya implementasi kerja sama melalui penelitian klinis multisenter, pelatihan, dan pengembangan model pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan Indonesia.
Forum ini turut menghadirkan Pan Ping dari World Federation of Chinese Medicine Societies (WFCMS) dan perwakilan Konsil Kesehatan Indonesia (KKI), Dr. Drs. Mohammad Agus Samsudin, M.M. Kepala BPOM RI, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., yang memberikan sambutan secara daring sekaligus membuka forum, menekankan pentingnya pengembangan obat bahan alam yang memenuhi standar keamanan, khasiat, mutu, dan bukti ilmiah.
Dalam sesi ilmiah, Zhu Liguo memaparkan perkembangan ortopedi dan traumatologi TCM, sedangkan Zhang Qing memperkenalkan Qing Palace Bone-Setting School. Feng Minshan menyampaikan penelitian mengenai teknik rotation–traction manipulation untuk cervical spondylosis, yang kemudian didemonstrasikan bersama Zhu Liguo di hadapan peserta.

Narasumber Indonesia turut berbagi kajian pengobatan tradisional, antara lain Suryawan Ang mengenai pemanfaatan teori TCM untuk memahami herbal Indonesia, Onny Priskilla, S.KM., M.Kes., mengenai Lempuyang Gajah (Zingiber zerumbet L.) untuk mendukung peningkatan nafsu makan anak, serta Maredona K. Sutantio, B.Med., M.Med., mengenai pendekatan integratif pada nyeri lutut.
Diskusi lanjutan bersama Han Changxiao membahas penerapan kecerdasan buatan untuk cervical spondylosis, standardisasi pelatihan, pengembangan platform diagnosis cerdas, tata kelola data, dan kesiapan penelitian klinis. Penyerahan plakat kepada mitra Indonesia, termasuk IIK Bhakti Wiyata, turut memperkuat jejaring kerja sama dan pengembangan sumber daya manusia.
Pada 21 Oktober 2026, delegasi melanjutkan kunjungan ke KKI untuk berdiskusi mengenai sistem pendidikan, kompetensi, registrasi, kewenangan, dan tata kelola profesi pengobatan tradisional di Indonesia. Delegasi diterima oleh Ketua KKI, drg. Arianti Anaya, MKM, Wakil Ketua KKI, dr. Roberth Johan Pattiselanno, MARS, serta sejumlah pimpinan lainnya, termasuk Megawati Santoso, Ph.D., dan Dr. Drs. Mohammad Agus Samsudin, M.M.
Pertemuan tersebut juga membahas peran kolegium yang berkaitan dengan pengobatan tradisional interkontinental, pengobatan tradisional, kesehatan tradisional ramuan dan jamu, serta akupunktur. Hasil diskusi menjadi masukan bagi pengembangan program pelatihan Joint Laboratory agar mencakup teori, praktik, asesmen kompetensi, keselamatan pasien, dan kesesuaian dengan kewenangan profesi di Indonesia.
Pada hari yang sama, delegasi mengunjungi BPOM RI dan bertemu dengan Kepala BPOM, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D. Pertemuan yang difasilitasi PPTII tersebut membahas peluang penelitian klinis herbal, standardisasi bahan baku, pertukaran informasi regulasi, serta mekanisme pemasukan dan pengeluaran produk herbal antara Indonesia dan Tiongkok.
Deputi II BPOM, Mohamad Kashuri, S.Si., Apt., M.Farm., turut memaparkan gambaran perdagangan obat bahan alam kedua negara. Dalam diskusi disampaikan angka indikatif bahwa impor bahan dan produk herbal dari Tiongkok mencapai sekitar 90%, sedangkan ekspor produk obat bahan alam Indonesia ke Tiongkok sekitar 10%. Pembahasan ini membuka peluang penguatan daya saing produk herbal Indonesia dengan tetap memenuhi persyaratan mutu, keamanan, khasiat, dan perizinan.
Rangkaian forum dan kunjungan kelembagaan ini menandai langkah lanjutan implementasi China–Indonesia Joint Laboratory. Kerja sama selanjutnya diarahkan pada pelatihan terapi non-obat yang terstandar, penelitian klinis multisenter, pengembangan platform digital cerdas, serta penguatan kolaborasi sesuai regulasi dan sistem kesehatan Indonesia.
Keterlibatan UKDC sebagai co-organizer menjadi bagian dari upaya memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, organisasi profesi, rumah sakit, lembaga pemerintah, dan mitra teknologi. Melalui kerja sama ini, pengembangan pengobatan tradisional diharapkan semakin didukung oleh penelitian berbasis bukti, peningkatan kompetensi, keselamatan pasien, serta pemanfaatan inovasi yang bertanggung jawab dan sesuai dengan konteks Indonesia.