Universitas Katolik Darma Cendika UKDC turut berpartisipasi dalam Pertemuan Pertukaran dan Kerja Sama Internasional Pengobatan Tradisional Tiongkok (TCM) antara Tiongkok dan Indonesia yang diselenggarakan di Wangjing Hospital pada Senin, 22 September 2026. Pertemuan ini menjadi bagian dari rangkaian penguatan kerja sama di bidang pendidikan, pelayanan kesehatan, penelitian, dan pengembangan Pengobatan Tradisional Tiongkok (TCM) antara kedua negara.
Kegiatan tersebut merupakan kelanjutan dari peluncuran “Laboratorium Bersama Tiongkok–Indonesia untuk Pencegahan dan Penanganan Penyakit Degeneratif Tulang dan Sendi Berbasis Digital-Intelligent TCM” yang dilaksanakan pada pagi hari yang sama.
Dalam pertemuan ini, lima pakar dari Indonesia yang berasal dari beberapa institusi turut hadir, di antaranya Universitas Katolik Darma Cendika, Universitas Surabaya, RS UBAYA, serta Perkumpulan Pengobat Tradisional Interkontinental Indonesia (PPTII). Sementara itu, Wangjing Hospital diwakili oleh Prof. Li Hao selaku Sekretaris Komite Partai Wangjing Hospital, Yang Kexin selaku Wakil Direktur Wangjing Hospital, Qiu Moyan selaku Direktur Kantor Hubungan Luar Negeri, bersama sejumlah kepala unit, tenaga klinis, dan peneliti.
Pertemuan diawali dengan sambutan dari Prof. Li Hao yang menyampaikan apresiasi atas kehadiran para perwakilan Indonesia. Dalam kesempatan tersebut, beliau memperkenalkan perkembangan Wangjing Hospital, mulai dari sejarah, pelayanan klinis, kegiatan penelitian, hingga pengalaman rumah sakit dalam membangun kerja sama internasional.
Wangjing Hospital memiliki 46 departemen klinis dan medikoteknik, empat National Clinical Key Specialties, serta sepuluh bidang spesialis prioritas National Administration of Traditional Chinese Medicine. Rumah sakit ini juga dikenal memiliki keunggulan dalam bidang ortopedi dan traumatologi TCM, termasuk penerapan terapi manipulasi manual untuk menangani berbagai penyakit degeneratif tulang dan sendi.
Prof. Li Hao menyampaikan harapan agar pertemuan tersebut dapat menjadi kesempatan untuk memperluas kerja sama dengan institusi mitra di Indonesia, khususnya dalam bidang pelayanan klinis, pengembangan sumber daya manusia, dan penelitian.
Pada sesi berikutnya, Rektor Universitas Katolik Darma Cendika, Victor Imanuel Williamson Nalle, mewakili institusi pendidikan dan pelayanan kesehatan dari Indonesia untuk memperkenalkan perkembangan pendidikan serta potensi kerja sama di bidang TCM.
Dalam pemaparannya, Rektor Victor menjelaskan bahwa UKDC merupakan perguruan tinggi yang berdiri sejak 1986 dan berlokasi di Surabaya, Indonesia. Salah satu bidang yang menjadi bagian dari pengembangan UKDC adalah Program Akupuntur dan Pengobatan Herbal (APH) yang telah menyelenggarakan pendidikan sarjana terapan selama empat tahun sejak 2019.
Program APH UKDC mengembangkan pendidikan yang mencakup teori dasar TCM, diagnosis, teori meridian, praktik klinis akupunktur, tuina, hingga pelatihan penelitian. UKDC juga telah diakui sebagai institusi anggota World Federation of Chinese Medicine Societies (WFCMS).
Selain memperkenalkan UKDC, Rektor Victor turut memperkenalkan RS UBAYA sebagai salah satu institusi pelayanan kesehatan mitra yang memiliki berbagai bidang klinis, seperti ortopedi, radiologi dan pencitraan, rehabilitasi, serta unit gawat darurat. Ia juga memperkenalkan PPTII yang saat ini dipimpin oleh Suryawan Ang, yang juga merupakan anggota Executive Council WFCMS.

Dalam kesempatan tersebut, pihak Indonesia menyampaikan sejumlah peluang kerja sama yang dapat dikembangkan bersama Wangjing Hospital, antara lain pengembangan dan pelatihan tenaga pengajar, pendidikan klinis, lokalisasi terminologi TCM ke dalam bahasa Indonesia, penelitian, serta pemanfaatan teknologi digital.
Setelah pemaparan, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi dan pertukaran antara delegasi Tiongkok dan Indonesia. Berbagai topik dibahas, mulai dari pelayanan klinis TCM, pengembangan sumber daya manusia, penelitian, penggunaan platform digital, hingga penerapan dan pengembangan teknologi TCM.
Para perwakilan Indonesia juga menyampaikan sejumlah bentuk kerja sama yang dapat dikembangkan pada tahap selanjutnya, seperti pengenalan kapasitas institusi, kuliah dan seminar bersama, diskusi kasus klinis, kunjungan dan observasi, serta berbagai program pertukaran lainnya.
Beberapa bidang yang dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan bersama meliputi rehabilitasi integratif antara TCM dan kedokteran Barat, terapi manipulasi manual dan terapi non-obat, pendidikan klinis, serta penelitian.
Pertemuan kemudian ditutup dengan sesi foto bersama dan pertukaran cendera mata antara perwakilan Tiongkok dan Indonesia sebagai simbol persahabatan serta komitmen untuk terus memperkuat hubungan kerja sama.
Pertemuan pertukaran dan kerja sama internasional TCM Tiongkok–Indonesia ini menjadi salah satu langkah dalam memperluas hubungan kerja sama, tidak hanya pada tingkat proyek, tetapi juga melalui penguatan hubungan antarinstitusi, pengembangan sumber daya manusia, pendidikan, penelitian, dan pelayanan klinis.
Melalui pengembangan Laboratorium Bersama Tiongkok–Indonesia untuk Pencegahan dan Penanganan Penyakit Degeneratif Tulang dan Sendi Berbasis Digital-Intelligent TCM, Wangjing Hospital bersama institusi mitra di Indonesia diharapkan dapat terus membuka ruang pertukaran pengetahuan dan pengalaman.
Bagi UKDC, keterlibatan dalam pertemuan ini menjadi bagian dari upaya memperluas jejaring internasional sekaligus membuka peluang pengembangan pendidikan, penelitian, dan praktik TCM. Kerja sama antara institusi pendidikan, pelayanan kesehatan, dan organisasi profesi diharapkan dapat terus berkembang sehingga memberikan manfaat bagi pengembangan TCM dan pelayanan kesehatan masyarakat di Indonesia.